Hmm mungkin ada
sekolompok orang yang sengaja mendiskriditkan jomblo agar mereka pengen
pacaran, lalu membelanjakan uangnya, lalu mentraktir pacar-pacarnya, lalu jalan
berduaan, lalu ngabisin uangnya. Disini saya mencium adanya konspirasi para
kapitalis.
Saya ingin melawan isu
mengenaskan kaum jomblo dengan sebuah opini tentang betapa tidak pentingnya
pacaran. Ya, pacaran itu tidak penting. Untuk lebih jelasnya, ada baiknya kita
ketahui defenisi pacaran itu apa. Kalau menurut Wikipedia, “Pacaran merupakan
proses perkenalan dua insane manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap
pencarian kecocokan menuju kehidupan keluarga yang dikenal dengan pernikahan”.
Nah pertanyaannya,
kalau kita masih SMA atau SMP, apakah pernikahan udah menjadi tujuan? Terus
kalau buat nikah buat apa dong? Cuma senang-senang? Biar dibilang gaul? Biar
dibilang keren? Biar bangga? Kebanggaan seperti apa yang kita dapatkan dari
punya pacar? Tapi uang pulsa masih merengek sama orang tua.
Okelah kalau kita udah
bisa ngasilin duit sendiri. Tapi bukankah masih banyak hal penting yang bisa
dilakukan buat mempersiapkan masa depan. Belum lagi resiko dikhianati,
ditinggal bahkan dicampakan.
Ha, bilang saja yang
nulis ini tidak laku!
Nah yang seperti ini
nih pasti ada saja orang yang komen. Gini sob, buat saya lebih baik tidak laku
ketimbang saya sok-sok pacaran biar dianggap laku. Tapi saya tidak tahu setelah
itu saya harus ngapain.
Keren dan terlihat
keren itu berbeda. Terlihat keren itu palsu. Kayaknya keren padahal tidak. Yang
pacaran juga banyak yang gitu, terlihat bahagia padahal tidak. Saya tidak anti
sama orang yang pacaran. Tapi saya anti sama orang yang menganggap jomblo
adalah kesalahan.
Tiap orang punya
pilihan hidup masing-masing. Kalau pilihan kita mau dihargai, maka hargailah
pilihan orang lain.

Belum ada tanggapan untuk "Konspirasi Dibalik Label Jomblo"
Posting Komentar