Banyak quote bertebaran
dan sungguh menggugah hati dan pikiran saya. Quote itu dapat ditemukan di
buku-buku, majalah, koran, dan internet, bahkan banyak juga dipakai kata pamungkas
bagi para motivator. Motivator kekayaan, misalnya.
Quote adalah suatu
kalimat yang dianggap menarik, bermakna, bermanfaat hingga sering dijadikan
bahan acuan atau sumber untuk memperkuat, menambah dan memperjelas tulisan. Quote
adalah penggalan kalimat dari seorang yang berpengaruh. Quote biasanya di ambil
dari orang hebat, tokoh yang berpengaruh, artis hingga orang yang memiliki
kekayaan yang berlimpah.
Orang seperti saya,
seberapa puitis dan kerennya quote yang saya sampaikan tak akan mudah di dengar
atau dikutip quote-quote saya. Sebaliknya jika quote itu diambil dari oleh
seorang kaya raya, banyak orang yang mengutip bahkan dijadikan pedoman hidup.
Nyata loh.
Misalnya, quote yang
dilontarkan oleh seorang pengusaha yang tidak pernah sekolah bilang, sekolah
itu tidak penting. Akhirnya ramai-ramai yang mengaminkan sekolah itu tidak
penting. Bahkan lebih ekstrim lagi, bikin hesteg, ngapain sekolah, toh
pendidikan itu tidak penting.
Manusia diciptakan
dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang mudah dalam memahami sesuatu dan
ada yang lamban sekali. Belum lagi, persepsi dan tafsir terhadap kalimat
bermacam ragam. Dari sudut perspektif saya, jelas itu sebuah doktrin yang akan
memperlambat kemajuan pendidikan Indonesia.
Mengapa ini bisa saya
katakan sebuah doktrin? Lagi gencar-gencarnya Negara ini membangun sistem
pendidikan supaya lebih baik, ada saja manusia yang malah menghalangi atau
bahkan justru memandang pesimis dengan sistem pendidikan kita. Kalau memang
tidak suka dengan sekolah, mari diskusikan dengan pak Menteri Pendidikan, bilang
pada bapak Menteri, rakyat Indonesia tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, buka
usaha saja. Dan dana 20% pendidikan itu dialihkan saja untuk buka usaha rakyat
kita.
Lagi-lagi pemerintah
ngotot memikirkan pendidikan kita ini supaya lebih baik. Dari tiap ganti
Presiden, ganti lagi Menteri Pendidikannya, kalau Menterinya sudah diganti,
ganti lagi kebijakannya.
Belum lagi banyak, para dosen dan guru atau pimpinan sebuah lembaga pendidikan yang suka mengkritik tentang banyaknya sarjana yang jadi pengangguran. Tolong jangan salahkan sarjana muda yang tidak berbakat untuk jadi pengusaha, biarkan kami tetap untuk menjadi diri sendiri. Salahkan saja para dosennya yang hingga saat ini mengajar dengan cara konvensional. Jangan terlalu pragmatis terhadap pendidikan, salahkan para pengajar yang mengajar terlalu konservatif hingga wajar para lulusan sarjana tidak bisa diserap di dunia kerja jaman now.
Sistem pendidikan kita
yang saat ini hanya masih menghasilkan para pekerja, bukan pemikir.
Menghasilkan para pegawai bukan innovator.
Mereka yang baru saja
mendapat sedikit harta sudah merasa sombong dan sibuk berkoar pendidikan itu
tidak penting. Sekolah tak ada gunanya. Walaupun cukup banyak para motivator
kekayaan yang bilang sekolah itu penting.
Dan kalian juga boleh
menyalahkan saya yang hanya bisa menulis. Hei, mau dibawa kemana bangsa ini,
jika semuanya sibuk menyalahkan? Saling kritik mengkritik, saling berlaku
curang, sogok menyogok.
Kalau mau jadi PNS,
kalau tidak lewat kenalan orang dalam, bisa juga dengan uang sogok. Para kandidat
yang suka bagi-bagi duit pada saat pemilu adalah kecurangan. Apalagi, ah sudah
menjadi rahasia umum kale.
Tapi setidaknya saya
harus berharap tentang masa depan negeri kita. Kalau banyak orang yang curang
suka main suap dan menyuap, masih banyak lagi orang yang benar-benar jujur apa
adanya, tidak sombong dan rajin menabung.

Belum ada tanggapan untuk "Quote dan Pendidikan"
Posting Komentar