Nikmat Menjadi Guru

Sebelumnya saya ucapkan selamat Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei beberapa hari yang lalu. Hari dimana selalu kita ngaungkan supaya pendidikan negeri ini semakin baik dan kualitasnya juga semakin meningkat.

Kesimpulan sementara saya benar, bahwa ternyata nasib guru itu benar seperti yang telah diucapkan oleh orang-orang. Benar sekali apa yang diberitakan oleh media-media, benar sekali apa yang diberitakan oleh sosial media, dan benar sekali perkiraan dari pengalaman saya selama mengajar. 

Yah, maksud saya disini di kampung ini, bukan untuk mengadu nasib atau karena memang tidak dapat pekerjaan di kota. Maksud saya disini adalah, dalam rangka pengabdian pada masyarakat. Jadi saya itu bukan beneran mau nyari nafkah dari mengajar gaes. Bukan. Titik. Ya buat apa kan saya sudah tahu gaji dan keadaannya serta nasibnya. Maunya saat ini bisa bermanfaat dan nularin ilmu pada adik-adik sekolah yang imut.

Sebenarnya tidak perlu juga saya menuliskan ini. Toh sama juga banyak nasib guru-guru yang memang digaji ala kadarnya. Kalau bisa, saya sebut menjadi guru dengan gaji yang kurang manusiawi. Kurang laik sekali.

Alkisah, di sebuah kampung pesisir, ada sebuah sekolah dasar swasta yang hanya memiliki 6 orang guru dan hanya tiga saja yang aktif mengajar. Satu lagi kepala sekolah. Begini, biasanya juga guru yang datang hanya satu orang. Dari sini tentu kalian sudah bisa pahami, biasa hanya  satu guru mengajar enam kelas sekaligus satu hari. Oke. Saya lanjutkan.

Suatu hari, kebetulan hanya satu orang guru yang mengajar. Mau tidak mau guru ini harus bergiliran dalam enam kelas dalam satu waktu. Ngajar ke kelas 1 dan 2. Masuk lagi guru itu ngajar ke kelas 3 dan 4, dan sampailah untuk kelas 5 dan 6.

Sesaat masuk dan memberi materi sekaligus memberi penjelasan pada murid kelas 5 dan 6. Tiba-tiba ada seorang murid yang melapor kepada guru tersebut, bahwa ada murid kelas 3 dan 4 yang berkelahi. Maka dengan beberapa saat sang guru masuk ke kelas 3 dan 4 tadi. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Dilanjutkan memberi penjelasan pada murid kelas tersebut (kelas 3 dan 4). Pembelajaran pun dilanjutkan seperti biasa.

Beberapa menit kemudian, sialnya ternyata ada orang tua murid yang ngomel dan marah pada guru itu di depan kelas. Ngomolnya kasar sekali. Dia bilang, “jika ada murid yang kelahi, tolong jangan dibiarin. Kalau tidak mau bilangin, mendingan kamu mengajar disini berhenti saja”. Sontak sang guru bingung. Kenapa bingung? Lah, ini dikelas adem saja. Tadi guru itu tanya kok pada semua murid, apa benar dan siapa yang kelahi tadi. Malah semua murid kompak diam dan ngaku tak tahu apa-apa. Gak ada perkelahian kok. Dan lagi si orang tua murid itu ngomel pada guru itu depan murid-murid kelas 3 dan 4.

Usut punya usut, ternyata memang ada murid cowok dan cewek yang kelahi. Mereka sudah pulang tanpa sepengetahuan guru itu dan murid cewek itu melapor pada orang tuanya. Sontak orang tua murid tadi marah pada guru yang ngajar itu.

Sang guru hanya bingung dan bertanya. Disaat letihnya mengajar enam kelas sekaligus, disaat itu pulalah orang tua ngomel dan marah pada sang guru itu.. Kok bisa begitu ya?

Belum lagi derita jomblo yang diidap sang guru itu. Gaji yang tidak layak serta kesejahteraan yang sangat tidak menjamin. Lantas siapa yang mau pada sang guru jomblo itu. Lengkap sudah penderitaannya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Nikmat Menjadi Guru"

Posting Komentar