Kesimpulan sementara
saya benar, bahwa ternyata nasib guru itu benar seperti yang telah diucapkan
oleh orang-orang. Benar sekali apa yang diberitakan oleh media-media, benar
sekali apa yang diberitakan oleh sosial media, dan benar sekali perkiraan dari pengalaman
saya selama mengajar.
Yah, maksud saya disini
di kampung ini, bukan untuk mengadu nasib atau karena memang tidak dapat
pekerjaan di kota. Maksud saya disini adalah, dalam rangka pengabdian pada
masyarakat. Jadi saya itu bukan beneran mau nyari nafkah dari mengajar gaes.
Bukan. Titik. Ya buat apa kan saya sudah tahu gaji dan keadaannya serta
nasibnya. Maunya saat ini bisa bermanfaat dan nularin ilmu pada adik-adik sekolah yang imut.
Sebenarnya tidak perlu
juga saya menuliskan ini. Toh sama juga banyak nasib guru-guru yang memang
digaji ala kadarnya. Kalau bisa, saya sebut menjadi guru dengan gaji yang
kurang manusiawi. Kurang laik sekali.
Alkisah, di sebuah
kampung pesisir, ada sebuah sekolah dasar swasta yang hanya memiliki 6 orang
guru dan hanya tiga saja yang aktif mengajar. Satu lagi kepala sekolah. Begini, biasanya
juga guru yang datang hanya satu orang. Dari sini tentu kalian sudah bisa pahami,
biasa hanya satu guru mengajar enam
kelas sekaligus satu hari. Oke. Saya lanjutkan.
Suatu hari, kebetulan
hanya satu orang guru yang mengajar. Mau tidak mau guru ini harus bergiliran
dalam enam kelas dalam satu waktu. Ngajar ke kelas 1 dan 2. Masuk lagi guru itu
ngajar ke kelas 3 dan 4, dan sampailah untuk kelas 5 dan 6.
Sesaat masuk dan
memberi materi sekaligus memberi penjelasan pada murid kelas 5 dan 6. Tiba-tiba
ada seorang murid yang melapor kepada guru tersebut, bahwa ada murid kelas 3
dan 4 yang berkelahi. Maka dengan beberapa saat sang guru masuk ke kelas 3 dan
4 tadi. Ternyata tidak terjadi apa-apa. Dilanjutkan memberi penjelasan pada
murid kelas tersebut (kelas 3 dan 4). Pembelajaran pun dilanjutkan seperti biasa.
Beberapa menit
kemudian, sialnya ternyata ada orang tua murid yang ngomel dan marah pada guru
itu di depan kelas. Ngomolnya kasar sekali. Dia bilang, “jika ada murid yang
kelahi, tolong jangan dibiarin. Kalau tidak mau bilangin, mendingan kamu
mengajar disini berhenti saja”. Sontak sang guru bingung. Kenapa bingung? Lah,
ini dikelas adem saja. Tadi guru itu tanya kok pada semua murid, apa benar dan
siapa yang kelahi tadi. Malah semua murid kompak diam dan ngaku tak tahu
apa-apa. Gak ada perkelahian kok. Dan lagi si orang tua murid itu ngomel pada
guru itu depan murid-murid kelas 3 dan 4.
Usut punya usut,
ternyata memang ada murid cowok dan cewek yang kelahi. Mereka sudah pulang
tanpa sepengetahuan guru itu dan murid cewek itu melapor pada orang tuanya.
Sontak orang tua murid tadi marah pada guru yang ngajar itu.
Sang guru hanya bingung
dan bertanya. Disaat letihnya mengajar enam kelas sekaligus, disaat itu pulalah
orang tua ngomel dan marah pada sang guru itu.. Kok bisa begitu ya?
Belum lagi derita
jomblo yang diidap sang guru itu. Gaji yang tidak layak serta kesejahteraan
yang sangat tidak menjamin. Lantas siapa yang mau pada sang guru jomblo itu. Lengkap
sudah penderitaannya.

Belum ada tanggapan untuk "Nikmat Menjadi Guru"
Posting Komentar