Tatkala saya buka hp
dipagi, banyak teman-teman warga jamaah Fesbukiah yang membuat status tentang
perihal pelihara anjing. Aduh, udahlah berhijab, pegang anjing pula. Sontak
menjadi viral berita itu. Begitu juga dengan saya yang juga tidak mau
ketinggalan ikut terbawa informasi tersebut beberapa hari yang lalu.
Kemudian, puisi Ibu
Sukma yang juga sempat membuat heboh jagat maya. Puisi yang dibacakan pada saat
acara fashion itu juga sering diberitakan dijagat maya. Videonya lagi viral.
Banyak dikomentari miring dan ada juga yang berkata, ya sudahlah. Bahkan
menurut berita, sudah dilaporkan ke polisi. Ihh, saya jadi ngeri untuk baca
puisi hehe. Syukurlah saya tidak suka dengan puisi. Walaupun akhirnya, dengan
menangis ibu Sukma menyatakan minta maaf.
Saya itu orangnya kalau
sudah megang hp. Biasanya lupa akan waktu. Gimana tidak, sayang dong kalau
terlewatkan berita-berita viral di sosial media. Nanti saya takutnya dicap
orang yang kurang wawasan. Lebih tepatnya, tidak melek dengan isu-isu terkini,
khususnya di jagat maya.
Yang jadi masalah,
kalau kebanyakan main hp dan baca berita yang gak benar, entar saya kehilangan
produktivitas dan entar saya termakan berita hoax, kalaupun ada. Ya Allah
ampunilah dosa hamba ini. Tapi, selama ini, manfaat internet itu luar biasa,
kita bisa dapati informasi secepat kilat. Secepat superhero Flash berlari.
Kembali ke soal puisi. Jika
mau bicara tentang puisi, saya mau curhat kawan-kawan. Saya ini sebenarnya
termasuk golongan manusia yang tidak suka dengan puisi. Bagi saya puisi itu
ribet. Apalagi sepengetahuan saya, kalau mau buat puisi itu pasti huruf per
huruf menjadi kata-kata itu sudah harus dicerna dan direnungkan. Kemudian, dari
kata-kata ini menjadilah sebuah kalimat puitis berupa puisi.
Bikin puisi itu perlu
perenungan dan imajinasi. Jadi, kalau ada puisi yang isinya
perbandingan-perbandingan yang memang dianggap menyudutkan suatu agama,
terlebih Islam. Ya, semua orang berhak merespon dong. Baik pro maupun kontra
adalah konsekuen yang mesti diterima. Ya, kalau memang tidak mau ada respon
yang negatif, jangan melontarkan sebuah makna yang membuat orang berbeda dalam
menafsirkannya.
Eits, satu lagi puisi
yang perlu saya cantumkan dalam tulisan ini. Puisi yang dibaca oleh Bapak
Ganjar Pranowo. Kalau ini, ya tergantung yang menafsir. Dan semua orang berhak
menafsirkan puisi itu. Entah itu menggunggah atau menggugat itu terserah kita. Ya,
sebagaimana disampaikan diatas, kalau tidak mau ditafsir yang bukan-bukan, ya
diam saja.
Intinya adalah puisi sementara
terbaik itu menurut saya ada pada film AADC 2. Puisi yang ditulis Rangga untuk
Cinta. Menurut saya mendalam banget maknanya. Itu tafsir saya, dan tentunya
menggugah saya.

Belum ada tanggapan untuk "Puisi Yang Menggugah"
Posting Komentar