Saat yang Tepat

Saat haus menyerang. Lambung terasa perih dan mulut kering dan keinginan untuk minum tak bisa ditunda-tunda lagi. Itu pasti. Tetapi, dalam situasi seperti itu, sebenarnya kekuatan kita untuk minum tak sebesar ‘penderitaan’ yang kita alami ketika dilanda kehausan. Penderitaan itu hanya mendatangkan rasa nikmat pada tiga gelas air saja menurut saya. 

Gelas pertama, memberikan kenikmatan luar biasa, sebab ia masuk pada saat yang tepat, yakni pada saat rasa haus merejam tubuh kita dan membutuhkan air sebagai sarana yang diciptakan Tuhan untuk menghilangkan rasa haus. 

Gelas kedua, meski memberikan air dalam jumlah yang sama, kadar rasa nikmatnya tidak seperti gelas pertama. Terjadi penurunan kadar kenikmatan itu, sebab saatnya sudah bergeser tidak begitu tepat lagi. 

Gelas ketiga, barangkali hanya kita habiskan setengahnya, sebab saat yang tepat untuk menghilangkan rasa haus itu sudah hilang, telah dibayar lunas oleh gelas pertama dan gelas kedua.

Saat yang tepat memang memberikan rasa nikmat yang tak didapat dari saat yang tidak tepat. Orang merasa nikmat dalam makan dan minum hanya pada saat ia merasa lapar dan haus. Jika rasa lapar dan hausnya sudah hilang, rasa nikmat itupun hilang. Hanya sampai disitu kadar saat yang tepatnya. 

Oleh karena itu, orang yang makan secara berlebihan dianggap saudaranya setan, sebab menghilangkan rasa nikmat dengan cara memilih saat yang tidak tepat (terus saja makan meski sudah kenyang) adalah perbuatan setan. Ini berlaku untuk semua urusan.

Saat yang tepat selalu datang dari kesehatan jiwa, kerja keras, dan  perjuangan tak kenal lelah.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Saat yang Tepat"

Posting Komentar