Sewaktu kuliah, saya pernah ditugaskan kampus untuk program pengabdian pada masyarakat, (dikenal dengan kuliah, kerja, nyata). Kebetulan kami dibagi beberapa kelompok dan kelompok kami ditempatkan di suatu dusun di desa tersebut.
Karena saya dikelompok itu untuk bagian dokumentasi dan laporan, maka saya ditugaskan untuk bertanya tentang budaya, adat dan berbagai kebiasaan lainnya. Termasuk juga tentang teknik kepemimpinan ala kepala desa tersebut.
Saya bertanya tentang bagaimana bisa menjadikan desa ini begitu maju. Padahal sumber daya alam dan potensi desanya sangat-sangat jauh sekali dari keadaan desa saya.
Dengan hanya mengandalkan potensi pertanian dan perkebunan jeruk, dan getah, kepala desa ini memutar otak untuk memajukan desanya. Misalnya, ketika masyarakat ingin membuat Aula desa, seluruh masyarakat ikut berpartisipasi. Dengan apa? Yaitu ketika saat panen padi, setiap warga yang punya sawah dan kemudian panen, warga itu wajib memberikan sumbangan berupa satu karung goni padi.
Begitu juga selanjutnya, ketika masyarakat ingin membangun masjid, masyarakat pun juga dimintai padinya ketika panen tiba yaitu, satu karung goni untuk membangun masjid tersebut. Hingga terbangun aula dan masjidnya.
Hingga wajar, masyarakat disini bisa berswasampada beras. Beras miskin tidak laku disana. Beras Bulog yang rasanya hambar itu tidak laku.
Dari tiga dusun. Disini tak ada masyarakat yang jadi nelayan. Semuanya petani. Beda sekali dengan desa saya. Di desa saya itu ada tambak, ada sawit, ada ikan laut tawar yang luar biasa, ada nipa, kelapa hingga berbagai macam potensi lainnya.
Oh iya, saya tanya lagi pada kepala desanya, tentang bagaimana bisa dapat bantuan jalan aspal yang mulus disini. Hingga bermegah gedung sekolah dari TK, SD dan SMP. Bapak kepala desa tersebut bilang, ini adalah kerja bawahan saya. Termasuk jalan mulus dibatas desa adalah lobi kepala dusun.
Beliau bercerita, "Saya sebagai kepala desa itu disini aja tiap hari ngaret sama ngurus sawah. Saya malas, kalau sering-sering keluar. Palingan para staf Saya. Bawahan saya aja bisa kayak gitu, apalagi saya yang bergerak, melobi pejabat". Ujar pak kades tersebut tersenyum pada saya.
Padahal saat itu belum ada yang namanya dana desa, atau yang sering didewakan desa saat ini, ADD.
Kini kepala desa tersebut memikirkan bagaimana bisa membangun sekolah agama. Madrasah Aliyah. Alhamdulillah terdengar kabar, sekolah tingkat atas itu sudah dua kelas.
Program yang diutamakan kades tersebut adalah pertama, membangun pendidikan masyarakat, yaitu satu dusun, satu TK. Dari SD sampai SMA.
Kedua, menjadikan desa ini sebagai lumbung padi. Ketiga, membentuk kelompok tani dan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para petani.

Belum ada tanggapan untuk "Membangun Desa"
Posting Komentar