Kamis jam sembilan
malam bulan April 2015 kita sudah janjian sebelumnya bahwa akan bertemu di
sebuah toko buku di Kota Pontianak. Kebetulan buku yang akan kita cari sama,
yaitu buku tentang kelautan. Apa saja judulnya, intinya temanya tentang laut.
Ke toko buku memang sudah menjadi kebiasaanku tiap minggunya dan setiap bulannya wajib bagiku untuk membeli buku yang ku suka. Itu diluar koleksi buku dari meminjam buku ke perpustakaan daerah ataupun kampus yang hanya untuk keperluan tugas kuliah saja.
Apalagi ini pergi ke
toko bukunya sambil bertemu dengan seorang gadis yang sejak pertama kenalan aku
kagumi sosoknya. Sesosok gadis yang asalnya cukup tidak dekat jaraknya dari
tempat asalku. Kami dipertemukan pada suatu komunitas kepenulisan. Jadi, sudah
barang tentu kami ini memiliki kesamaan hobi pikirku waktu itu.
Detik ke detik ku lihat
jam di ponsel hp ku ini dan beberapa menit kemudian, engkau tiba juga datang
bersama seorang sahabat karib yang selalu bersamamu. Lega juga rasanya, melihat
engkau lagi di toko buku favoritku ini. Hampir tiada sepatah pun terucap dari bibir
ku ini. Gugup bercampur tak karuan tatkala berhadapan di depan mu kala itu.
Meskipun aku tahu bahwa disini bukan hanya ada aku dan engkau saja, juga
seorang sahabat karibmu itu. Tapi disini banyak pengunjung yang juga punya
hasrat dan minat akan pentingnya sebuah buku untuk dibaca. Engkau adik kelasku.
Walau pun berbeda jurusan. Masihkah kau ingat cerita ini?
Lalu aku bicara dengan
sebuah kalimat pendek.
“Dek, oh ya, buku
tentang laut, banyaknya disebelah sana”. Kataku sambil menunjukan kearah
kanannya.
“Iya Bang, mari kita
lihat-lihat beberapa judul buku yang abang tunjukan”. Jawabnya penuh antusias.
Beberapa kali cek dan
lihat lalu cari lagi judul yang cocok, akhirnya kami malam itu menyerah pasrah
karena tidak dapat membeli buku yang kami cari.
Malam yang menunjukan pukul setengah sepuluh malam.
Ku mulai lagi dengan
sebuah kalimat.
“Temannya tadi dimana”?
“Mungkin dia cari
komik, atau biasanya baca buku lucu yang segelnya udah dirusak”.
“Memang sih di toko
buku, pasti ada-ada saja orang yang membuka segel. Walau sudah diberi
peringatan dilarang buka segel, tetap saja ada orang yang penasaran ingin
membaca seperti apa isi cerita dalam buku itu”.
“ Abang benar. Biasa
juga saya lihat bukunya, eh udah dibuka segelnya. Kalau sudah begitu, saya pun
baca juga bang, hehe.”
“Abang juga demikian
dik. Bagi abang itu tak mengapa, toh itu bukan mencuri, hanya saja, cara kita
kurang baik. Ini menurut abang ya, sebagai seorang yang juga berkecimpung di
dunia kepenulisan. Adakalanya, sebagai sebuah penghargaan untuk menghargai
karya penulis, lebih baik kita beli buku-buku yang ditulis tersebut. Itu lebih
baik. Daripada kita harus kayak gini. Itu menurut abang.”
“Benar juga Bang,
sebagai masyarakat yang baik dan mahasiswa yang masih belajar bagaimana cara
menulis, saya setuju dengan pendapat abang. Bagaimanapun juga, kita ini adalah
calon penulis-penulis muda. Siapa tahu, suatu saat nanti kita bisa menyajajarkan
buku kita di samping penulis terkenal saya ini. Siapa tahu kan Bang. Apalagi
saya baca di koran-koran lokal, tulisan abang, baik yang opini ataupun cerpen
juga ada dimuat. Wah, selamat ya bang, atas tulisannya yang telah dimuat.”
“Wah, ini abang masih
dalam proses belajar dik. Tidak semua loh, tulisan abang itu dapat dimuat di
Koran, contohnya abang pernah ngirim lima cerpen di media Koran, yang dimuat
hanya dua. Begitu juga sebaliknya dengan opini. Tapi itu Alhamdulillah masih
diberi kesempatan untuk dimuat”.
“Semoga dengan ini,
abang bisa mencapai cita-cita abang. Sebagaimana yang telah abang ceritakan di
sms waktu itu bahwa abangkan, bercita mau jadi seorang penulis dan jurnalis.
Walaupun saat ini, abang kuliahnya di Ekonomi, tapi itukan tidak ada masakah
dan saya yakin, abang pasti bisa menggapainya. Saya aja yakin, masak abang
tidak yakin dengan kemampuan abang sendiri”.
“ Amin. Iya abang
sangat yakin. Terimakasih atas doa, dukungan dan semangatnya. Abang juga doakan
adik semoga dilancarkan segala urusan dan citanya. Saat ini, abang dalam proses
penulisan skripsi. Doakan abang juga ya dik.”
“Amin. Semoga
dilancarkan semuanya ya”.
Kembali kulihati jam di
ponsel ku ini. Waktu menunjukan tepat pukul sepuluh malam. Beberapa waktu
kemudian, temannya datang mengajaknya pulang. Karena memang sudah larut malam,
dia tak ada pilihan untuk menolak ajakan temannya tersebut untuk pulang.
Percakapan pun berhenti. Pengunjung semakin sepi. Dan orang pun juga sudah
banyak yang pergi pulang. Karena semakin malam, toko pun semakin sepi.
“Ingin ku bahagiakan
dirimu setiap saat bersamamu. Seperti janjiku padamu, tak kan pernah kuingkari.
Bahwa aku kan selalu ada didekatmu, aku kan selalu menemani harimu, kau harus
tahu, betapa aku mencintaimu.
Lirik sebuah lagu

Belum ada tanggapan untuk "Toko Buku"
Posting Komentar